Unggulan
Keinginan untuk Tidak Dilahirkan - Menyelami Filosofi Cioran dan Kegelapan Jiwa Johan Liebert
Suatu hari, ditengah redupnya langit, Rembulan yang Melihat ke arah saya, yang sedang bergandeng tangan dengan secangkir kopi, saya berpikir dan mencoba mencari makna dari hal yang tak seharusnya saya pikirkan sejak awal. Kegelisahan kita terhadap dunia, munculnya perasaan yang tidak nyaman: keinginan untuk tidak dilahirkan. Dalam banyak hal, perasaan saya, bukanlah sekadar hasrat untuk menghindari kesulitan hidup, tetapi juga refleksi mendalam terhadap kekosongan dan kebohongan dalam kehidupan kita. Emil Cioran, dalam karya-karyanya, mengungkapkan kebosanan terhadap eksistensi manusia, menggambarkan hidup sebagai siklus penderitaan yang tak ada habisnya. Baginya, hidup seringkali tidak lebih dari sekadar penundaan terhadap kematian yang tidak bisa dihindari. Ini adalah pandangan yang mendorong kita untuk mempertanyakan nilai keberadaan kita sendiri.
Namun, apakah keinginan untuk tidak dilahirkan itu hanya sebuah konsekuensi dari penderitaan pribadi, atau ada sesuatu yang lebih dalam lagi? Apakah perasaan itu bisa dilihat sebagai pencarian makna yang lebih dalam, atau justru sebagai penyerahan terhadap kegelapan yang ada di dunia ini?
Dia memiliki ketertarikan yang aneh terhadap anak-anak, dan sering kali memanipulasi mereka untuk mencapai tujuannya. Mengapa anak-anak? Bagi Johan, anak-anak adalah simbol kemurnian yang belum terkontaminasi oleh kehidupan. Mereka adalah sasaran yang sempurna untuk dijadikan objek eksperimen psikologisnya. Ini adalah cara Johan untuk menghancurkan setiap harapan dan kebaikan yang ada dalam dunia ini.
Dalam pandangannya, dunia adalah tempat yang penuh kebohongan, dan jika ada yang perlu dihancurkan, maka itu adalah harapan yang dimiliki manusia.
Keterkaitan antara Cioran dan Johan Liebert terletak pada pandangan mereka tentang dunia yang rusak dan eksistensi yang tak bernilai. Cioran menganggap bahwa manusia hidup dalam penderitaan yang tidak terhindarkan, dan lebih baik jika tidak ada yang dilahirkan sama sekali. Sementara itu, Johan menciptakan kekacauan di dunia sekitar dengan cara yang lebih langsung dan destruktif, memanipulasi orang lain—terutama anak-anak—sebagai cara untuk membuktikan bahwa kehidupan tidak lebih dari sebuah ilusi belaka.
Cioran dan Johan, meskipun sangat berbeda dalam bentuknya, keduanya mengarah pada kesimpulan yang sama: dunia ini penuh dengan penderitaan yang tidak ada artinya. Bagi Johan, ini adalah alasan untuk menghancurkan, sedangkan bagi Cioran, ini adalah alasan untuk menyerah.
Namun, apakah itu berarti kita harus mengikuti jalan gelap ini? Apakah kita harus menerima kegelapan dan kehancuran sebagai kenyataan yang tak terhindarkan? Dalam pandangan saya, meskipun kita tidak bisa menolak kenyataan eksistensial ini sepenuhnya, kita tetap memiliki pilihan untuk mencari makna yang lebih dalam, bahkan dalam kegelapan yang kita hadapi.
Mungkin hidup memang penuh dengan kegelapan, namun bukan berarti kita harus menjadi bagian dari kegelapan itu. Kita mungkin tidak bisa menghindari penderitaan, tapi kita bisa memilih bagaimana kita menghadapinya. Sama seperti Johan yang memilih untuk memanipulasi dan menghancurkan, kita memiliki kebebasan untuk memilih apakah kita akan menambah penderitaan di dunia ini, atau justru mencari cara untuk menghadapinya dengan cara yang lebih bermakna.
Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian pernah merasa seperti Cioran atau Johan, merasa bahwa hidup ini terlalu penuh dengan kegelapan untuk dijalani? Bagaimana kalian menghadapi perasaan tersebut?
Postingan Populer
Cinta: Antara Pengorbanan, Ketidakpastian, dan Pencarian Makna
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Menelusuri Kegelapan Diri: Refleksi tentang Johan Liebert dan Makna dalam Kejahatan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar