Langsung ke konten utama

Unggulan

Cinta: Antara Pengorbanan, Ketidakpastian, dan Pencarian Makna

Pada kali ini, saya ingin berbicara tentang cinta. Bukan cinta yang sering digambarkan dalam lagu-lagu manis atau film-film romantis, tetapi tentang cinta yang lebih dari sekadar permen kapas, pelangi, dan bintang yang berkilau di langit . Cinta, dalam pandangan saya, adalah sesuatu yang lebih kompleks. Ia bukan sekadar perasaan yang datang begitu saja —tetapi proses yang panjang, yang sering kali menguji kita dengan penderitaan, pengorbanan, dan ketidakpastian . Cinta bukanlah sesuatu yang sempurna, bukan sesuatu yang hanya menyenangkan dan penuh kebahagiaan, tetapi juga tentang kesediaan untuk berbagi beban, untuk terus tumbuh bersama, dan untuk menerima bahwa kehidupan ini tidak selalu indah . Saya mulai berpikir, apakah kita benar-benar memahami apa itu cinta? Apakah kita sering kali menganggapnya sebagai sekadar perasaan Kagum, Nafsu, atau bahkan Obsesi? Bukankah cinta lebih dari itu? Bukankah ia tentang pengorbanan yang tulus, tentang memberikan diri kita sepenuhnya untuk ...

Keinginan untuk Tidak Dilahirkan - Menyelami Filosofi Cioran dan Kegelapan Jiwa Johan Liebert

    Suatu hari, ditengah redupnya langit, Rembulan yang Melihat ke arah saya, yang sedang bergandeng tangan dengan secangkir kopi, saya berpikir dan mencoba mencari makna dari hal yang tak seharusnya saya pikirkan sejak awal. Kegelisahan kita terhadap dunia, munculnya perasaan yang tidak nyaman: keinginan untuk tidak dilahirkan. Dalam banyak hal, perasaan saya, bukanlah sekadar hasrat untuk menghindari kesulitan hidup, tetapi juga refleksi mendalam terhadap kekosongan dan kebohongan dalam kehidupan kita. Emil Cioran, dalam karya-karyanya, mengungkapkan kebosanan terhadap eksistensi manusia, menggambarkan hidup sebagai siklus penderitaan yang tak ada habisnya. Baginya, hidup seringkali tidak lebih dari sekadar penundaan terhadap kematian yang tidak bisa dihindari. Ini adalah pandangan yang mendorong kita untuk mempertanyakan nilai keberadaan kita sendiri.

Namun, apakah keinginan untuk tidak dilahirkan itu hanya sebuah konsekuensi dari penderitaan pribadi, atau ada sesuatu yang lebih dalam lagi? Apakah perasaan itu bisa dilihat sebagai pencarian makna yang lebih dalam, atau justru sebagai penyerahan terhadap kegelapan yang ada di dunia ini?


Untuk memahami lebih jauh, saya akan perkenalkan salah satu karakter paling gelap dalam dunia anime, Johan Liebert, dari Monster. Johan adalah karakter yang berjuang dengan pemikiran yang sangat nihilistik dan manipulatif. 

Dia memiliki ketertarikan yang aneh terhadap anak-anak, dan sering kali memanipulasi mereka untuk mencapai tujuannya. Mengapa anak-anak? Bagi Johan, anak-anak adalah simbol kemurnian yang belum terkontaminasi oleh kehidupan. Mereka adalah sasaran yang sempurna untuk dijadikan objek eksperimen psikologisnya. Ini adalah cara Johan untuk menghancurkan setiap harapan dan kebaikan yang ada dalam dunia ini. 


Dalam pandangannya, dunia adalah tempat yang penuh kebohongan, dan jika ada yang perlu dihancurkan, maka itu adalah harapan yang dimiliki manusia.

Keterkaitan antara Cioran dan Johan Liebert terletak pada pandangan mereka tentang dunia yang rusak dan eksistensi yang tak bernilai. Cioran menganggap bahwa manusia hidup dalam penderitaan yang tidak terhindarkan, dan lebih baik jika tidak ada yang dilahirkan sama sekali. Sementara itu, Johan menciptakan kekacauan di dunia sekitar dengan cara yang lebih langsung dan destruktif, memanipulasi orang lain—terutama anak-anak—sebagai cara untuk membuktikan bahwa kehidupan tidak lebih dari sebuah ilusi belaka.


Pergeseran ini membawa saya pada pertanyaan yang lebih besar: Apakah keinginan untuk tidak dilahirkan adalah bentuk penghindaran dari kegelapan, atau justru pengakuan terhadap kegelapan itu sendiri? 

Cioran dan Johan, meskipun sangat berbeda dalam bentuknya, keduanya mengarah pada kesimpulan yang sama: dunia ini penuh dengan penderitaan yang tidak ada artinya. Bagi Johan, ini adalah alasan untuk menghancurkan, sedangkan bagi Cioran, ini adalah alasan untuk menyerah.



Namun, apakah itu berarti kita harus mengikuti jalan gelap ini? Apakah kita harus menerima kegelapan dan kehancuran sebagai kenyataan yang tak terhindarkan? Dalam pandangan saya, meskipun kita tidak bisa menolak kenyataan eksistensial ini sepenuhnya, kita tetap memiliki pilihan untuk mencari makna yang lebih dalam, bahkan dalam kegelapan yang kita hadapi.


Mungkin hidup memang penuh dengan kegelapan, namun bukan berarti kita harus menjadi bagian dari kegelapan itu. Kita mungkin tidak bisa menghindari penderitaan, tapi kita bisa memilih bagaimana kita menghadapinya. Sama seperti Johan yang memilih untuk memanipulasi dan menghancurkan, kita memiliki kebebasan untuk memilih apakah kita akan menambah penderitaan di dunia ini, atau justru mencari cara untuk menghadapinya dengan cara yang lebih bermakna.


Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian pernah merasa seperti Cioran atau Johan, merasa bahwa hidup ini terlalu penuh dengan kegelapan untuk dijalani? Bagaimana kalian menghadapi perasaan tersebut?

Komentar

Postingan Populer