Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Informasi; dari Mammoth hingga Propaganda Pemerintah
Informasi merupakan sesuatu yang penting dan tidak pernah kehilangan relevansinya seiring perubahan zaman. Sejak manusia hidup dengan cara berburu, berpindah-pindah tempat tinggal, bercocok tanam, melewati era kegelapan, era peperangan, hingga memasuki zaman modern ketika manusia mampu menciptakan berbagai teknologi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan—informasi tetap menjadi sesuatu yang krusial bagi kehidupan manusia. Sebagaimana dikatakan oleh Francis Bacon: scientia potentia est—pengetahuan adalah kekuatan. Pengetahuan atau informasi bukan sekadar kumpulan fakta dingin, melainkan sesuatu yang memungkinkan manusia bertahan hidup, mengendalikan keadaan, bahkan menguasai sesamanya apabila digunakan dengan cara tertentu.
Manusia tidak akan mampu berburu seekor mammoth jika mereka tidak mengetahui kelemahan atau cara untuk menaklukkan makhluk tersebut. Demikian pula dalam peperangan: pasukan tidak dapat bergerak maju ke garis pertahanan musuh tanpa mengetahui kemungkinan adanya penyergapan atau jebakan. Bahkan dalam kehidupan paling dasar, manusia tidak akan bisa berjalan, makan, atau berenang jika mereka tidak pernah mengetahui bagaimana cara melakukan semua itu.
Dalam dialog Theaetetus, Plato menyatakan bahwa pengetahuan sejati berkaitan dengan kesadaran jiwa terhadap realitas yang ada. Dalam konteks ini, pengetahuan sering kali menjadi sesuatu yang menyelamatkan manusia—atau setidaknya mengulur mereka dari bahaya dan kematian—sejak zaman purba hingga era modern saat ini.
Namun demikian, informasi juga memiliki sisi lain. Ia dapat menjadi sesuatu yang indah sekaligus berbahaya apabila berada di tangan yang salah. Seseorang atau suatu kelompok dapat mengubah, memelintir, atau menyeleksi informasi sebelum disajikan kepada publik. Dari sinilah muncul fenomena seperti propaganda, misinformasi, atau manipulasi narasi.
Filsuf seperti Michel Foucault pernah menekankan bahwa kebenaran dalam masyarakat sering kali tidak berdiri secara netral, melainkan terkait dengan struktur kekuasaan yang menentukan wacana mana yang dianggap sah untuk beredar.
Salah satu contoh yang sering menjadi pembahasan dalam sejarah modern adalah kekejaman rezim Nazi yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Banyak penelitian sejarah menunjukkan bahwa rezim tersebut bertanggung jawab atas pembunuhan sekitar enam juta orang Yahudi dalam peristiwa yang dikenal sebagai Holocaust. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan paling terdokumentasi dalam sejarah modern.
Namun, menarik untuk dicermati bahwa perhatian global terhadap tragedi tertentu sering kali jauh lebih besar dibanding tragedi lain. Dalam sejarah kolonialisme misalnya, jutaan orang juga kehilangan nyawa akibat penjajahan, perang, kelaparan, dan eksploitasi ekonomi di berbagai wilayah dunia. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana sejarah dipilih, disusun, dan disorot dalam narasi global.
Pemikir seperti René Girard menjelaskan bahwa masyarakat sering kali membangun mekanisme scapegoat, yaitu kecenderungan untuk menjadikan satu pihak sebagai simbol kejahatan kolektif agar masyarakat dapat memulihkan stabilitas sosial setelah krisis. Dalam proses tersebut, narasi tertentu dapat diperbesar, sementara tragedi lain justru terlupakan atau direduksi.
Dalam esainya On Truth and Lies in a Nonmoral Sense, Friedrich Nietzsche bahkan berargumen bahwa apa yang kita sebut sebagai “kebenaran” sering kali hanyalah metafora yang terus diulang hingga akhirnya dianggap sebagai realitas.
Fenomena serupa juga dapat diamati dalam dunia modern yang dipenuhi arus informasi cepat. Selama pandemi COVID-19 pada tahun 2020–2021, misalnya, banyak orang menghabiskan waktu lebih lama di rumah dan mulai mengakses berbagai sumber informasi yang sebelumnya jarang mereka baca. Situasi ini memunculkan fenomena baru: meningkatnya minat masyarakat terhadap buku, arsip sejarah, serta berbagai narasi alternatif mengenai peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah.
Dalam The Origins of Totalitarianism, Hannah Arendt menjelaskan bahwa propaganda modern tidak hanya berfungsi untuk menyebarkan kebohongan, tetapi juga dapat mengaburkan batas antara fakta dan fiksi. Ketika masyarakat tidak lagi mampu membedakan keduanya, loyalitas terhadap narasi tertentu sering kali menggantikan pencarian kebenaran itu sendiri.
Berbicara mengenai informasi, mungkin terlalu luas jika kita hanya melihat contoh dari sejarah global. Oleh karena itu, kita dapat melihat contoh yang lebih dekat, yaitu dari sejarah di Indonesia sendiri.
Salah satu contohnya adalah Kerajaan Singhasari di Jawa Timur. Dalam banyak buku pelajaran, kerajaan tersebut dikenal sebagai Kerajaan Singhasari. Namun secara historis, nama kerajaan tersebut sebenarnya adalah Kerajaan Tumapel, sementara Singhasari merupakan nama ibu kotanya. Popularitas nama ibu kota tersebut kemudian membuatnya lebih dikenal sebagai nama kerajaan.
Contoh sederhana ini menunjukkan bagaimana informasi sejarah dapat mengalami penyederhanaan atau perubahan dalam proses penyampaian kepada masyarakat. Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa hal tersebut terjadi? Mengapa tidak dijelaskan secara lebih lengkap dalam buku pelajaran?
Di sinilah kita kembali pada gagasan Michel Foucault mengenai hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Informasi yang beredar dalam masyarakat sering kali merupakan hasil seleksi dari berbagai pihak yang memiliki otoritas dalam menentukan narasi.
Contoh lain dapat ditemukan dalam berbagai survei internasional mengenai tingkat kebahagiaan suatu negara. Beberapa laporan global pernah menempatkan Indonesia pada posisi yang relatif baik dalam indeks kebahagiaan dunia. Namun bagi sebagian masyarakat yang hidup sehari-hari di dalamnya, klaim tersebut sering kali terasa ironis.
Tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, korupsi, serta berbagai persoalan struktural lain membuat sebagian orang mempertanyakan apakah angka tersebut benar-benar mencerminkan realitas kehidupan masyarakat. Situasi ini menunjukkan bahwa data statistik sekalipun tetap memerlukan interpretasi kritis.
Pada akhirnya, informasi bukan lagi sekadar alat bertahan hidup seperti pada masa manusia berburu mammoth. Ia telah berkembang menjadi sesuatu yang mampu membentuk realitas kolektif masyarakat.
Dari kesalahan penamaan kerajaan dalam buku pelajaran, hingga narasi sejarah global, hingga survei internasional tentang kebahagiaan—semuanya menunjukkan bahwa apa yang kita anggap sebagai “kebenaran” sering kali merupakan hasil konstruksi sosial yang kompleks.
Di era informasi yang melimpah seperti sekarang, tugas manusia bukan sekadar menerima informasi secara pasif, melainkan juga mempertanyakannya secara kritis. Seperti yang dikatakan oleh Friedrich Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra, manusia harus berani meruntuhkan nilai-nilai lama untuk menciptakan pemahaman baru.
Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi tanpa henti, kemampuan untuk berpikir kritis mungkin menjadi bentuk kekuatan paling penting yang dimiliki manusia modern.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
Menelusuri Kegelapan Diri: Refleksi tentang Johan Liebert dan Makna dalam Kejahatan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Keadilan, Baik, dan Jahat dalam Death Note: Perspektif L dan Light Yagami
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar